| |
Google Literacy Re-layout Perpustakaan 1 |
|
Google Literacy
Obok-obok internet dengan mesin pencari memang memberikan keasyikan
sendiri. Penasaran dan juga kepuasan ketika menemukan apa yang kita
cari, dan terlebih lagi ketika mencari sesuatu malah menemukan hal lain
yang lebih menarik, jadilah pencarian menjadi petualangan tanpa merasa
waktu berjalan terus. Kalau memang suka obok-obok internet dengan mesin
pencari, bisa tongpes (kantong kempes) gara-gara bayar warnet atau bisa
lupa pulang gara-gara asyik sendirian di kantor.
Kegiatan
obok-obok ini juga bisa untuk ajang narsis dengan mencari seberapa kita
terkenal di Internet. Kalau punya nama unik seperti saya, maka hit yang
didapatkan akan spesifik. Tapi kalau punya nama pasaran seperti nama
suami saya, Budi Susanto,
maka harus memilah Budi Susanto yang mana: music arranger? terdakwa
kasus korupsi busway? pemain tenis? penulis buku tentang politik (yang
satu ini ada inisial A mengawali nama lengkapnya? atau Budi Susanto dosen TI UKDW? atau masih banyak lain Budi Susanto? Ajang
narsis ini menarik karena dari pencarian ini ditemukan bahwa
karya-karya yang dipublikasikan online mendapat "penghargaan" karena
ditaut oleh situs lain. Dari bahan ajar yang menjadi bahan ajar di
institusi pendidikan lain, sampai posting-posting kita di milist pun
terbaca oleh si mesin pencari. Karena itu hati-hati untuk posting di
milist.
Dari sekian banyak mesin pencari dengan karakteristiknya
masing-masing, Google adalah mesin pencari favorit. Paling tidak
favorit saya dan suami. Yang membuat kami berdecak kagum adalah
kreativitas dari Google dalam menyajikan berbagai layanan: mesin-mesin
pencari yang lebih spesifik seperti pencari citra, pencari buku,
pencari artikel scholar, dan pencari web umum. Aplikasi email yang
digabung dengan aplikasi chatting adalah ide bagus. Sementara untuk
menyajikan informasi blog juga disediakan oleh Google. Mesin analisis
pengakasesan web dilakukan oleh Google analytics yang dapat
dimanfaatkan pada web personal atau web apapun. Aplikasi perkantoran
online Google docs tersedia juga. Waduh banyak deh! Kok jadi seperti
bagian pemasaran Google.
Dengan fasilitas yang bermacam-macam
seperti itu jangan heran jika para mahasiswa juga lebih senang bertanya
pada Google dari pada kepada pustakawan. Beberapa pustakawan jadi
cemburu sehingga mungkin aspirasi mereka tergambar di sebelah ini.
Padahal, Google seharusnya
menjadi teman baik para pustakawan karena dengan mampu memanfaatkan
fasilitas-fasilitas Google yang beragam, pekerjaan para pustakawan
dalam hal referensi dan literasi informasi jadi terbantu.
Fasilitas-fasilitas
Google yang komplit ini memberi ide tentang kemampuan dalam
memanfaatkan fasilitas-fasilitas Google untuk mendukung literasi
informasi: Google literacy.
Istilah ini menjadi judul proyek literasi kerja sama Google dengan
berbagai lembaga yang peduli pada literasi seperti UNESCO dan LITCAM.
Proyek ini berjudul Google Literacy Project. Arti
dari istilah itu adalah Proyek Literasi Google, sementara yang saya
maksud engan Google Literacy adalah Literasi informasi yang
memanfaatkan dukungan fasilitas-fasilitas di Google. Karena kuncinya
adalah memanfaatkan fasilitas-fasilitas di Google,
maka penggunaan fasilitas-fasilitas tersebut harus lancar dan fasih.
Jika pustakawan fasih dan lihai menggunakan Google tentu saja mahasiswa
akan banyak yang ingin memiliki kemampuan itu. Ini bukan barang mudah.
Menguasai penggunaan mesin pencari tidaklah mudah karena informasi yang
didapatkan sangat beragam dan pemilihan kata kunci dan istilah menjadi
suatu perkara yang penting.
Yooo, jadi gimana? Google literacy jadi suatu kemampuan dari bagian kemampuan information literacy kan?
|
|